Promo Spesial HINGGA 87 % OFF

+ GRATIS domain dengan beli paket tahunan

Penawaran berakhir dalam:

00 :

13 :

07 :

08

Cara Membuat Portofolio Fotografi Secara Menarik dan Profesional

Cara Membuat Portofolio Fotografi

Setiap kali mengambil hasil foto yang bagus, pasti rasanya kita ingin memamerkannya kepada semua orang.

Sekadar mengunggah hasil jepretan ke media sosial atau Shutterstock mungkin sudah cukup memuaskan bagi sejumlah orang. Namun, bagi Anda yang ingin menjadi fotografer profesional, Anda pun perlu punya portofolio fotografi untuk mengubah viewer tersebut menjadi calon klien.

Bingung harus mulai dari mana? Tenang saja, melalui artikel ini kami akan membahas cara membuat portofolio fotografi dalam lima langkah sederhana. Kami juga akan memberikan beberapa contoh portofolio fotografer dengan desain terbaik sebagai inspirasi Anda.

Langkah 1: Buat website portofolio fotografi

Ketika berbicara tentang fungsi utama portofolio bagi fotografer, mungkin jawaban pertama yang terlintas di benak Anda adalah untuk menampilkan foto-foto terbaik yang telah diambil.

Jawaban ini memang benar, tapi fungsi yang terpenting adalah membantu para fotografer menarik lebih banyak klien.

Apa pun bidang fotografi yang Anda kuasai, baik komersil, portrait, acara pernikahan, konser, hingga foto lanskap, tujuan portofolio adalah meningkatkan skill serta mem-branding diri Anda sebagai fotografer profesional.

Karena itu, hal yang harus menjadi prioritas ketika membuat portofolio fotografi adalah fungsionalitas, diikuti dengan desain yang menarik.

Kabar baiknya, membuat website portofolio sebenarnya cukup mudah karena hanya memerlukan sedikit elemen web seperti galeri foto, halaman kontak, dan terkadang halaman blog sebagai ruang bercerita sang fotografer.

Apalagi sekarang sudah banyak website builder yang menyediakan template apik buatan desainer untuk mempercepat proses membuat portofolio. Tentunya template tersebut masih bisa diedit sesuai selera dan kebutuhan Anda.

Ingat, cara membuat portofolio fotografi berbeda dengan cara membuat website biasa. Penempatan foto harus direncanakan secara matang karena nantinya penyajian gambar menjadi penentu sukses atau tidaknya portofolio Anda.

Website one-page dengan desain minimalis jadi pilihan populer untuk portofolio fotografi. Konsep website ini tidak membutuhkan banyak elemen sehingga perhatian pengujung tetap tertuju pada karya foto yang ingin ditampilkan.

Langkah 2: Pertimbangkan audiens yang ingin disasar

Nah, setelah berhasil membuat website, langkah selanjutnya adalah menentukan fokus dari website portofolio fotografi Anda. Fokus ini berupa minat atau bidang fotografi yang Anda geluti, mulai dari foto wedding, arsitektur, perjalanan, lanskap, hingga fotografi digital atau analog.

Aneka bidang fotografi

Langkah ini sangat krusial. Pasalnya, website portofolio yang terdiri dari terlalu banyak foto atau jenis fotografi justru terlihat berantakan. Calon klien pun menjadi kesulitan mengenali niche atau ciri khas Anda sebagai seorang fotografer.

Fokus pada satu topik saja akan memudahkan Anda saat menyusun foto di dalam portofolio fotografi dan lebih menonjolkan keahlian Anda.

Namun, jika Anda menekuni banyak jenis fotografi, pilihlah beberapa bidang sekaligus untuk dijadikan fokus utama bisnis fotografi Anda. Cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan membuat halaman atau menu yang terpisah antara satu kategori dengan kategori lainnya di website portofolio.

Pastikan layout, tampilan, dan tema website tetap konsisten secara keseluruhan untuk mempertahankan kesan profesional.

Langkah 3: Kurasi hasil foto terbaik

Fotografer seharusnya memiliki kreativitas yang tinggi.

Portofolio harus menjadi representasi dari karya foto terbaik yang pernah Anda ambil dan skill Anda sebagai fotografer profesional.

Maka dari itu, sebaiknya kurasi dan tampilkan foto-foto terbaik di halaman beranda agar calon klien dapat langsung melihatnya.

Untuk memilih foto yang akan ditampilkan, cobalah unggah beberapa foto ke akun media sosial Anda dan lihat mana saja yang paling populer.

Dengan cara ini Anda bisa memilih foto secara objektif. Lalu, setelah mengumpulkan beberapa saran, tentunya Anda masih harus menyusun dan menyeleksi foto-foto tersebut.

Letakkan foto paling populer di bagian awal dan akhir galeri. Foto pertama berfungsi untuk mengajak pengunjung web membuka portofolio Anda, sedangkan foto terakhir akan meninggalkan kesan yang mendalam dan diharapkan mampu mengubah pengunjung menjadi klien.

Intip website portofolio fotografer lain yang memiliki niche serupa. Perhatikan gaya dan penyajian foto mereka untuk mencari tahu bagaimana cara menata foto di dalam portofolio yang efektif dan efisien.

Mari kita lihat portofolio fotografi milik Yasamin J Tehrani sebagai contohnya.

Sebagai fotografer fine art dan dokumenter, Yasamin memiliki beberapa koleksi yang perlu ditampilkan di websitenya, termasuk pemilihan presiden AS 2021, event olahraga, potret kehidupan di Iran, dan masih banyak lagi.

Namun, seluruh foto tersebut tidak langsung tersaji di halaman utama website miliknya. Ia hanya memilih dua gambar dari masing-masing kategori foto dan menampilkannya dalam bentuk slideshow:

Website Portofolio Yasamin J Tehrani

Contoh lainnya adalah portofolio Luminita Photos. Website ini hanya menampilkan sejumlah kecil foto terbaik sang fotografer di halaman utama. Pada header website juga terdapat satu foto yang menjadi representasi tema foto secara keseluruhan.

Luminita Photos

Langkah 4: Cantumkan konten dan informasi yang relevan

Seperti kata pepatah, satu gambar memiliki kemampuan untuk menyampaikan ribuan kata. Namun, terkadang gambar perlu disajikan dengan informasi atau backstory untuk menambahkan kesan personal dan kedalaman cerita.

Jika Anda kurang ahli dalam bercerita, tuliskan saja hal-hal seperti lokasi, waktu, objek foto, perjalanan menuju lokasi foto, bahkan alasan Anda mengambil foto tersebut.

Pengunjung website Anda bukan fotografer profesional saja, tetapi bisa juga orang-orang yang mencari inspirasi portofolio fotografi. Saat itulah portofolio fotografi Anda bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan dan tips bermanfaat.

Salah satu contohnya adalah portofolio fotografi wedding Anchor dan Lace. Portofolio ini menceritakan kisah pertemuam mereka dengan para klien, dan pengalaman mereka ketika bekerja sama dengan berbagai orang.

Cara membuat portofolio fotografi: Anchor and Lace

Kemudian, ada juga portofolio fotografi yang mencantumkan deskripsi pada setiap foto yang diambil oleh sang fotografer, yaitu Story Photography. Deskripsi tersebut umumnya meliputi acara, tempat, hingga klien yang terlibat.

Website portofolio fotografi Story Photography

Menambahkan informasi teks di portofolio sangatlah disarankan. Dengan menyisipkan keyword ke judul dan konten, Anda bisa meningkatkan SEO dan menjangkau lebih banyak audiens.

Portofolio Anda memiliki peluang lebih besar untuk menduduki peringkat tinggi di halaman pencarian. Karena peringkat website tidak hanya dipengaruhi oleh foto, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan untuk mengoptimalkan kualitas SEO portofolio fotografi.

Sebagai seorang fotografer, tentunya keahlian utama Anda adalah memotret objek foto. Maka, wajar apabila Anda tidak ahli dalam membuat copywriting untuk SEO.

Salah satu strategi SEO yang bisa diterapkan adalah menambahkan alt text yang relevan pada foto-foto yang diunggah. Cara ini akan memberi tahu Google tentang konten gambar dan mengoptimasi SEO website.

Lebih baiknya lagi, cobalah menggunakan Google Keyword Planner untuk menemukan keyword atau kata kunci yang relevan dengan bisnis fotografi Anda, kemudian gunakan keyword tersebut di website.

Ranking website mungkin sulit naik jika menggunakan keyword yang terlalu umum seperti “fotografer di Indonesia”. Untuk mengakalinya, gunakan keyword yang lebih spesifik seperti “fotografer komersil di Jakarta”. Keyword planner bisa membantu Anda mencari tahu informasi seperti apa yang dicari oleh audiens dan menerapkannya ke dalam konten website.

Langkah 5: Buat user interface dan navigasi yang rapi

Visual portofolio fotografi tentu dipadati oleh banyak foto dan gambar. Supaya website tetap nyaman dipandang, Anda perlu merancang antarmuka yang simpel nan rapi.

Untuk mendapatkan antarmuka yang minimalis, hindari penggunaan animasi, pop-up, iklan, maupun widget di sisi halaman website. Manfaatkan white space untuk menciptakan kesan luas dan minimalis, serta kurangi konten teks setidaknya di halaman utama.

Konten dalam portofolio harus terfokus pada foto-foto Anda. Silakan tambahkan judul atau deskripsi singkat seperlunya. Jika Anda ingin menambahkan backstory yang cukup panjang, arahkan pengunjung ke halaman terpisah untuk membacanya.

Jika website terdiri dari banyak halaman, gunakanlah tombol hamburger pada menu navigasi untuk meminimalkan distraksi.

Website portofolio fotografi terbaik sebagai inspirasi Anda

Nah, setelah memaparkan cara membuat portofolio fotografi di atas, kali ini kami menyiapkan beberapa portofolio fotografer terbaik bagi Anda yang membutuhkan inspirasi menyusun layout dan desain web.

1. Gavin Gough

Portofolio Fotografer Gavin Gough

Gavin Gough adalah seorang fotografer perjalanan, editorial, dan humanitarian. Fotografer satu ini tidak perlu dipertanyakan lagi kesuksesannya. Buktinya, ia sudah menjadi langganan beragam lembaga non-profit dan majalah-majalah traveling ternama. Semua ini dapat Anda lihat melalui portofolionya.

Ia mengelompokkan foto-fotonya berdasarkan tempat yang pernah dikunjungi dan peristiwa yang pernah disaksikannya.

Di halaman utama, masing-masing kategori diperkenalkan melalui satu foto. Di sini Anda hampir tidak bisa menemukan ruang kosong, kecuali pada bagian header dan footer minimalis.

Seiring menggulir galeri proyek, foto berukuran full screen akan ditampilkan satu per satu sehingga Anda bisa menikmati setiap fotonya tanpa terburu-buru.

Di bagian bawah foto juga terdapat deskripsi singkat mengenai situasi dan masyarakat setempat yang terlibat di dalamnya.

Portofolio ini berhasil menciptakan user experience yang baik. Selain loading time yang cepat, website ini pun menyediakan tautan menuju koleksi berikutnya dari project yang sama di bagian akhir setiap halaman.

2. Jeremy Cowart

Portofolio Jeremy Cowart

Kalau Anda ingin tahu cara membuat portofolio fotografi dengan interface minimalis dan rapi, maka portofolio Jeremy Cowart bisa menjadi inspirasi yang tepat.

Begitu membuka website ini, Anda akan langsung disambut dengan galeri fotonya. Nama Jeremy terpajang di sisi kiri atas halaman dengan font stylish untuk memberikan sentuhan personal.

Menu drop-down di bagian atas portofolio fotografi ini memuat link menuju berbagai halaman, mulai dari kategori foto hingga profil sang fotografer.

Kemudian, bagian footer dimanfaatkan untuk memajang ikon menuju dua akun media sosialnya, yaitu Pinterest dan Instagram. Kedua platform ini berfokus pada aspek visual sehingga menjadi media yang tepat bagi fotografer untuk memamerkan karyanya di luar web fotografi.

3. Northlandscapes

Northlandscapes

Northlandscapes adalah website milik Jan Erik Waider, seorang fotografer yang memiliki spesialisasi di bidang foto lanskap.

Karya fotografi yang memukau seperti ini paling cocok dipadukan dengan tema sederhana untuk menciptakan kontras. Jan sendiri mengadaptasi konsep layout grid Instagram untuk memajang foto-fotonya.

Karena koleksinya cukup banyak, desain semacam ini sangat memudahkan pengunjung yang ingin melihat semua proyek fotografi yang telah dilakukannya.

Untuk mengisi ruang kosong, ia menuliskan judul kreatif dan deskripsi atau kutipan singkat di bawah setiap foto dengan pilihan font sederhana.

4. Love + Water

Portofolio Love Water

Love+Water adalah portofolio fotografer asal Hawaii, yang berfokus pada estetika. Elemen utamanya adalah fotografi pernikahan, daratan, lautan, dan langit.

Secara keseluruhan, desain website ini tertata begitu rapi dan nyaman dipandang. Mulai dari pilihan warna, layout, hingga font dan nuansanya dipertimbangkan dengan begitu baik.

Koleksi foto di dalamnya disusun berdasarkan skema warna, baik monokrom, pastel, atau warna-warna hijau. Akan sulit mengalihkan perhatian pengunjung dari foto-fotonya yang mempesona.

Di bagian atas terdapat menu yang akan memudahkan navigasi ke seluruh bagian website, terutama galeri dan kategori pilihan.

5. Eric Akashi

Eric Akashi

Portofolio Eric Akashi berfokus pada karyanya sebagai editor fotografi digital.

Meski kariernya sebagai fotografer sudah melejit, banyak orang yang mengunjungi situsnya untuk menemukan tips fotografi maupun jasa edit foto profesional.

Menampilkan banyak keahlian yang Anda kuasai di dalam portofolio bisa jadi cara yang tepat untuk menarik klien-klien baru.

Sebagian besar foto editorial yang diambil oleh Eric disajikan dalam bentuk art print. Strategi ini dilakukan untuk menarik orang-orang yang mencari layanan atau jasa yang berbeda pula.

Kalau portofolio Anda juga akan berbagi tips dan trik seputar fotografi, atau software seperti Lightroom atau Photoshop, pastikan Anda memasukkan kata kunci yang relevan pada meta tag agar orang-orang dapat menemukannya di Google Search.

Dapatkan inspirasi portofolio lainnya:

Onlinekan portofolio fotografi Anda

Bagi fotografer profesional seperti Anda, portofolio fotografi ibarat aset utama untuk mendatangkan calon klien. Bukan itu saja, dengan portofolio mahakarya Anda juga dapat dinikmati oleh semua orang di seluruh dunia.

Cara membuat portofolio fotografi yang menarik juga tidak sesulit yang dibayangkan, kok.

Triknya adalah menggunakan desain yang simpel dan rapi, tetap fokus pada niche bisnis, menampilkan karya foto terbaik, dan menyisipkan sedikit cerita. Bisnis fotografi Anda dijamin akan meroket dalam waktu singkat.

Ditulis oleh

Avatar penulis

Astrid

Astrid adalah pengagum bahasa dan sastra yang kini berprofesi sebagai penerjemah. Ia ingin berbagi pengetahuan seputar teknologi, bisnis online, dan digital marketing melalui tulisannya yang dimuat di blog Zyro. Untuk mengisi waktu senggangnya, ia senang mempelajari bahasa baru, membaca buku, juga bermain alat musik Kalimba.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan. Semua kolom wajib diisi.